Header Ads

Coretan Guru Belajar Masa Pandemi


 

Oleh: Dewi Mulyani, S.Pd., M.Pd

Social distancing, physical distancing, cuci tangan, pakai masker, rasanya sudah tidak asing lagi ditelinga. Kata-kata ini sudah bagaikan adalah kalimat rayuan yang setiap hari dikumandangkan. Kapanpun, dimanapun kita berada, kalimat ini sudah tidak pernah lagi absen dalam kehidupan  kita ditahun 2020 ini. Kalimat tersebut merupakan himbauan yang harus kita jalani dalam kehidupan baru ini dimasa munculnya Virus Covid-19. Pada saatnya tiba masa pandemic ini berakhir, seakan kalimat ini pun masih berdengung ditelinga. Ini kita lakukan guna memutus penyebaran Covid-19. 

Penyebaran virus Covid-19 ini membuat berbagai bidang kehidupan mengalami dampak yang harus segera ditangani. Termasuk dunia pendidikan yang tidak dapat melakukan pembelajaran dengan jarak dekat. Semua daerah meliburkan proses belajar mengajar di sekolah. Saat ini Covid-19 menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Agar proses pembelajaran tetap berlangsung, maka pola pembelajaran harus memperhatikan prinsip physical distancing yang harus dilakukan. Indonesia menerapkan kebijakan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau online. Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui media online yang menggunakan jaringan internet.

Guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online). Guru dapat melakukan pembelajaran melalui WhatsApp (WA), telegram, instagram, Google form, Zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda. Hal ini juga terjadi di SMA Negeri 7 Lhokseumawe, yang memutuskan menggunakan Microsoft team 365 dan WAG (Whatsapp Grup) sebagai media pembelajaran daring.

            Fenomena belajar daring mewarnai masa tahun ajaran baru 2020/2021. Dimulai dari pelatihan guru SMA Negeri 7 Lhokseumawe menggunakan aplikasi Microsoft team, pembenahan kondisi sekolah menerapkan gaya hidup baru ( peraturan memakai masker, mencuci tangan, social distancing, pengecekan suhu badan) yang mengharuskan sekolah mulai merancang strategi untuk penerapan kebijakan tersebut ( membuat westafel cuci tangan, menyediakan alat pengukur suhu badan (thermogun), membuat spanduk-spanduk berisikan himbauan Covid-19, dll). Dengan pembelajaran daring ini diharapkan guru lebih kreatif dalam mengelola kelas sehingga pembelajaran daring tidak akan membuat siswa merasa bosan. 

            Bagaimana strategi untuk dapat melibatkan aktivitas siswa, memberikan pengalaman langsung dan tidak membosankan. Bukan tanpa halangan, metode belajar daring ini rupanya menyisakan banyak kegelisahan di kalangan guru dan masyarakat pada awal penerapannya. Karena tidak semua pendidik dan siswa juga orang tua benar-benar siap dalam menghadapi era new normal dalam berjuang untuk tetap terus belajar dan mengajar di tengah-tengah masa pandemi covid-19 . Harus diakui bersama, ada banyak persoalan muncul di lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat terkait pelaksanan proses belajar mengajar secara daring.

        Warga sekolah terutama Guru SMA Negeri 7 Lhokseumawe, harus  berpikir bagaimana dapat merancang strategi pembelajaran yang menarik minat siswa untuk belajar, bagaimana cara memahami karakter siswa agar pola pembelajaran yang diberikan tepat, bagaimana menilai karakter siswa dengan pembelajaran jarak jauh, hingga bagaimana menilai anak tuntas dalam pembelajaran, lalu terlebih lagi persoalan bagaimana persiapan para pendidik guna menyiasati kesulitan siswa belajar yang notabane nya banyak gangguan dan beragam permasalahan yang dialami. 

        Bagaimana dengan pola belajar daring bagi siswa yang tidak memiliki gadget/hape, bahkan memiliki hape/gadget tapi tidak mendukung perangkat menggunakan team 365 atau kualitas signal dari posisi rumah peserta didik. Selain itu guru juga dituntut dalam persoalan bagaimana cara agar peserta didik tetap mau belajar, guru harus memiliki 1001 cara agar peserta didik tetap belajar dimasa pandemic. Disini adalah tantangan yang sangat besar bagi seorang guru. Bagaimana menciptakan praktek belajar mengajar yang menarik, bagaimana mebuat video pembelajaran singkat yang menarik yang dapat diakses dengan smartphone siswa, bagaimana strategi belajar mengajar didalam ruang virtual agar suasana menjadi menarik dan hidup. 

        Strategi yang dirancang dari yang sederhana sampai yang kompleks, Misalnya merekan suara menjelaskan materi pembelajaran, membuat lebar kerja yang menarik, merancang materi belajar yang mudah dipahami, menggunakan metode demonstrasi dalam pembelajaran sains, penggunaan quiziz, kahoot, jamboard, menti, padlet dalam pembelajaran virtual agar lebih menyenangkan, penggunaan goggle slide dalam diskusi virtual, menggunakan aplikasi rekam layar bandycame untuk sekedar membuat video yang menginclude wajah gurunya, pembuatan animasi video script agar siswa merasa tetap belajar dengan seolah-olah gurunya sedang menulis dipapan tulis (whiteboard), membuat komik animasi “Doraemon” dengan memasukkan materi pembelajaran, dan bahkan mendowload video-video pembelajaran dari youtube, dan lain sebagaimana. 

         Permasalahan lain lagi yang dihadapi guru SMA Negeri 7 Lhokseumawe adalah kurangnya kuota, bahkan tidak adanya kuota internet siswa untuk sekedar mengakses bahan pembelajaran yang telah diberikan, tidak ada uang untuk membeli kuota internet, bahkan wali siswa berkata “Jangankan kuota makan saja tidak cukup, hingga pada akhirnya keluarlah kebijakan pemerintah untuk menyediakan kuota belajar bagi tenaga pengajar dan peserta didik.

        Selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, banyak peserta didik yang malah kesulitan dalam proses belajar. Tidak dapat menyesuaikan waktu belajar dengan keadaan dirumah, dukungan orangtua dan kepedulian orangtua yang sangat minim menyebabkan peserta didik kesulitan dalam proses belajar mengajar. Mereka malah menganggap ini adalah waktunya libur, bersantai, pembelajaran menjadi membosankan, sehingga menyebabkan tugas-tugas menumpuk dan materi yang diberikan oleh guru justru tidak paham, sehingga hasil belajar peserta didik menurun dan merosot tajam dari yang diharapkan. 

        Menurut Sudjana (2010), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah peserta didik menerima pengalaman belajar. Winkel dalam Purwanto (2010) juga berpendapat bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalan sikap dan tingkah laku.  Jadi, jika anak menerima pembelajaran dari gurunya maka akan meningkatkan kemampuan kognitifnya, namun bila anak tidak paham dengan materi yang dibelajarkan maka anak akan merasa kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Saat pembelajaran di rumah atau daring pada masa pandemic ini, peran guru dan orangtua harus bekerjasama dalam proses belajar peserta didik, agar peserta didik tidak mengalami hambatan dalam pembelajaran. Sehingga hasil belajar peserta didik tidak menurun. 

        Bahkan sekarang perlahan pihak sekolah sudah memperbolehkan beberapa orang siswa secara bergantian untuk datang kesekolah guna mendapatkan pembelajaran secara tatap muka dengan gurunya, tetapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan, dan menghindari keramaian. Tidak ada yang diharapkan siswa selain bertemu langsung dengan gurunya, yang merupakan enegiser terbesar bagi peserta didik untuk belajar.

        Bertepatan dengan moment peringatan Hari Guru Nasional (HGN), SMAN 7 Lhokseumawe mengawali pembelajaran secara tatap muka. Pembelajaran tatap muka digelar setelah mendapat izin dari Satuan Tugas Percepatan Pencegahan Covid-19  Kota Lhokseumawe dan instruksi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe. Setelah mendapatkan surat persetujuan dari orangtua/wali siswa diperbolehkan untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka dengan setiap harinya hanya 50 % dari siswa yang boleh bersekolah secara bergantian. Ini adalah kado terindah dari peringatan HGN Tahun 2020. 

        Kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ternyata lebih efektif dibandingkan secara online. Ini terlihat dari antusias siswa untuk bersekolah. Selamanya profesi guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Dalam proses pembelajaran tatap muka, banyak nilai yang dapat dipetik oleh siswa, seperti proses pendewasaan dalam kehidupan bersosial, budaya beretika, berakhlak mulia dan sopan santun yang hanya bisa didapatkan dengan adanya interaksi social. Selamat Hari Guru Nasional 2020 untuk seluruh guru di SMA Negeri 7 Lhokseumawe, jangan pernah lelah menjadi pelita bagi negeri ini, jadilah selalu patriot pahlawan bangsa, semoga Allah SWT selalu meridhai ikhtiar kita demi mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia terutama putra putri SMA Negeri 7 Lhokseumawe. Terima Kasih Guru. (*)

            Penulis adalah guru SMAN 7 Lhokseumawe 

dan Pendamping Guru Penggerak (PGP) Kemdikbud


Tidak ada komentar